Moskow (KABARIN) - Paus Leo XIV menegaskan ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran “tidak bisa diterima”.
"Hari ini, seperti yang kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima!” kata Paus Leo kepada wartawan di luar Roma, Selasa (7/4), seperti dikutip Takhta Suci.
“Tentu ada masalah hukum internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah pertanyaan moral yang menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan," ujar Paus asal Amerika itu.
Paus Leo mengatakan konflik di Timur Tengah "tidak menyelesaikan apa pun," melainkan malah memicu krisis ekonomi dan energi.
Mendesak pihak-pihak yang berseteru untuk kembali ke meja perundingan, dia memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional.
"Mari kita ingat, terutama, orang-orang yang tidak bersalah: anak-anak, orang tua, orang sakit… begitu banyak orang yang telah menjadi, atau akan menjadi, korban dari peperangan yang terus berlanjut ini,” tutur pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu.
“Serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional, dan itu juga merupakan tanda kebencian, perpecahan, dan kehancuran yang mampu dilakukan manusia," ujarnya, menambahkan.
Sebelumnya, Trump mengancam akan menghancurkan “seluruh peradaban” Iran.
Ia juga mengancam akan mengebom pembangkit listrik dan jembatan di seluruh Iran jika Teheran gagal membuka kembali Selat Hormuz dan mencapai kesepakatan pada Selasa pukul 20.00 malam EDT atau Rabu pukul 07.00 pagi WIB.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memperingatkan bahwa Iran bisa "kembali ke Zaman Batu" jika gagal mencapai kesepakatan sebelum batas waktu tersebut.
Perang retorika ini semakin memperburuk konflik terbaru di Timur Tengah, yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran menanggapi dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel mengklaim serangan mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang berasal dari program nuklir Iran, tetapi keduanya segera memperjelas bahwa mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026